Mendorong Semangat Kebangsaan di Dunia Maya

0
110

Di bulan Agustus kemarin, 73 tahun yang lalu, Indonesia berhasil memproklamirkan kemerdekaannya, setelah 350 tahun hidup dalam penjajahan. Dan kemerdekaan itu masih bisa kita rasakan hingga saat ini.

Namun, banyak yang berkata, apakah kita benar telah merdeka? Betul kita merdeka dari penjajahan secara fisik, tapi benarkah kita merdeka secara ekonomi, teknologi, atau merdeka dalam menentukan pendapat, memilih keyakinan dan lain sebagainya?

Mungkin akan banyak pertanyaan lagi yang muncul terkait tema kemerdekaan ini. Mari kita jadikan pertanyaan diatas sebagai media untuk introspeksi dan melakukan perbaikan. Hal ini penting agar kemerdekaan yang telah direbut itu, bisa diisi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, perkembangan teknologi informasi semakin tidak terbendung. Karena perkembangan itu pula, gaya hidup generasi milenial dalam mengakses informasi juga berbeda. Internet bukan lagi menjadi hal yang mahal. Bahkan, anak kecil hingga dewasa, sudah begitu familiar dengan yang namanya media sosial di internet.

Hampir setiap hari, aktifitas di dunia maya begitu ramai. Informasi yang beredar pun terus beraneka warga. Namun dalam perkembangannya, media sosial dan dunia maya ini juga mulai dilirik oleh kelompok radikal, untuk terus dijadikan media untuk menyebarkan ideologi radikal mereka.

Karena provokasi radikalisme itulah, media sosial dan dunia maya saat ini sudah ramai dibanjiri bibit kebencian, caci maki, hingga ajakan untuk melakukan jihad yang salah. Akibat itu semua, kerukunan dan keberagaman yang ada di Indonesia, berpotensi hancur karena maraknya provokasi radikalisme tersebut.

Bahkan, dalam konteks politik seperti sekarang ini, tidak sedikit pula para oknum masyarakat yang memanfaatkan panasnya politik, untuk menebarkan provokasi dan kebencian. Tujuannya adalah menjatuhkan elektabilitas paslon dan membuat masyarakat semakin galau.

Di bulan kemerdekaan ini, mari kita dorong agar masyarakat benar-benar bisa merdeka dalam mengakses informasi. Jangan beri masyarakat informasi yang menyesatkan.

Persoalannya adalah, tidak sedikit dari masyarakat yang sudah terbiasa melakukan cek ricek informasi. Akibatnya, perselisihan dan keruhnya interaksi di dunia maya, berpotensi pindah ke dunia nyata. Ketegangan antar pribadi dan kelompok pun bisa terjadi, jika provokasi di dunia maya terus terjadi. Untuk itulah, generasi milenial harus menjadi generasi yang cerdasi di dunia maya. Bekalilah diri kalian dengan informasi yang valid dan terpercaya.

Mari kita terus menyebarkan pesan damai dan pesan kebangsaan di dunia maya. Hal ini penting agar tidak ada lagi pesan-pesan yang mendiskreditkan ulama yang dinilai tidak sejalan, tidak ada pegi pesan yang mengkafirkan kelompok yang tidak sejalan, tidak ada lagi ujaran kebencian kepada pemeluk agama lain, dan tidak ada lagi kebencian terhadap pemerintah karena dianggap bagian dari toghut.

Sekali lagi, mari kita jadi generasi yang cerdas. Terus suarakan nilai-nilai kearifan lokal dan kebangsaan, agar generasi yang lahir adalah generasi yang toleran tapi tetap mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Dan semua itu bisa dimulai menyebarkan semangat kebangsaan di dunia maya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here